RENCANA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan Pola Nafas b.d Infeksi Paru
Karakteristik : batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis
Tujuan :
Anak akan mengalami pola nafas efektif yang ditandai dengan :
Suara nafas paru bersih dan sama pada kedua sisi
Suhu tubuh dalam batas 36,5 – 37,2OC
Laju nafas dalam rentang normal
Tidak terdapat batuk, cyanosis, haluaran hidung, retraksi dan diaporesis
Tindakan keperawatan
Lakukan pengkajian tiap 4 jam terhadap RR, S, dan tanda-tanda keefektifan jalan napas
R : Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan
Lakukan Phisioterapi dada secara terjadwal
R : Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi
Berikan Oksigen lembab, kaji keefektifan terapi
R : Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai order, kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare)
R : Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan
Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks
R : Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
Lakukan suction secara bertahap
R : Membantu pembersihan jalan nafas
Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2 – 4 jam
R : Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan
2. Defisit Volume Cairan b.d :
- Distress pernafasan
- Penurunan intake cairan
- Peningkatan IWL akibat pernafasan cepat dan demam
Karakteristik :
Hilangnya nafsu makan/minum, letargi, demam., muntah, diare, membrana mukosa kering, turgor kulit buruk, penurunan output urine.
Tujuan : Anak mendapatkan sejumlah cairan yang adekuat ditandai dengan :
Intake adekuat, baik IV maupun oral
Tidak adanya letargi, muntah, diare
Suhu tubuh dalam batas normal
Urine output adekuat, BJ Urine 1.008 – 1,020
Intervensi Keperawatan :
Catat intake dan output, berat diapers untuk output
R : Evaluasi ketat kebutuhan intake dan output
Kaji dan catat suhu setiap 4 jam, tanda devisit cairan dan kondisi IV line
R : Meyakinkan terpenuhinya kebutuhan cairan
Catat BJ Urine tiap 4 jam atau bila perlu
R : Evaluasi obyektif sederhana devisit volume cairan
Lakukan Perawatan mulut tiap 4 jam
R : Meningkatkan bersihan sal cerna, meningkatkan nafsu makan/minum
Diagnosis lain :
1. Perubahan Nutrisi : Kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, muntah, peningkatan konsumsi kalori sekunder terhadap infeksi
2. Perubahan rasa nyaman b.d sakit kepala, nyeri dada
3. Intoleransi aktivitas b.d distres pernafasan, latergi, penurunan intake, demam
4. Kecemasan b.d hospitalisasi, distress pernafasan
Referensi :
Acton, Sharon Enis & Fugate, Terry (1993) Pediatric Care Plans, AddisonWesley Co. Philadelphia
Jangan panik .... tetap tenang dalam setiap tindakan .... keselamatan kita yang paling utama ....
Sabtu, 13 Juni 2009
Minggu, 07 Juni 2009
RANGKUMAN EKG DASAR
1. Irama jantung
- Lihat di lead II
- Lihat gel. P : (+); (-); (tidak ada)
- Lihat komplek QRS (sempit atau lebar)
1. Irama Sinus
- Gelombang P defleksi (+) positif/cembung keatas.
- QRS sempit <= 3 kotak kecil
- Frekwensi normal 60-100 x/m, disebut sinur ritme
- Bila HR <> 100 x/m disebut sinus takikardi
2. Irama Junction
- Gel P defleksi (-) negatif/cekung kebawah
- QRS sempit <= 3 kotak kecil
- Frekwensi 40-60 x/m
3. Irama Ventrikel
- Gelombang P Tidak ada/lurus
- QRS lebar > 3 kotak kecil
- Frekwensi 20-40 x/m
2. Menghitung frekwensi (x/menit)
- Bagi 1500 dengan jarak R-R (kotak kecil) atau
- Bagi 300 dengan jarak R-R (kotak sedang)
- Hitung gel R dalam 6 detik kalikan dengan 10.
3. Menentukan adanya gangguan konduksi
A. Blok AV
Hitung panjang interval PR, dimana panjang PR lebih dari 0,2 detik atau 5 kotak kecil
1) AV blok derajat I
- Interval PR memanjang > 5 kotak kecil secara konstan.
- Durasi/panjang Interval PR satu dengan interval PR berikutnya sama
- Setiap P diikuti Kompleks QRS
2) AV blok derajat II Mobitz type I (Wenckebach)
- Durasi/panjang Interval PR satu ke Interval PR berikutnya makin panjang.
- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.
3) AV blok derajat II Mobitz type II
- Durasi/panjang Interval PR normal.
- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.
4) AV blok derajat III/ Total AV Blok (TAVB)
- Gelombang P lebih banyak daripada Kompleks QRS hampir dua kali lipat
- Gelombang P tidak diikuti oleh Kompleks QRS.
- Kompleks QRS terbentuk dari depolarisasi Ventrikel
B. Blok Cabang Berkas/ Bundle Branch Block (BBB)
- Identifikasi adanya bentuk komplek QRS seperti huruf M dengan lebar lebih dari 0,12 detik.
- Tentukan pada sadapan berapa Komplek QRS seperti hurup M tersebut
- Bila Kompleks QRS yang menyerupai huruf M ada di V1-V3 diidentifikasi sebagai RBBB, Bila terdapat di lead V4-V6 disebut LBBB
4. Menentukan adanya ganguan perfusi
- Identifikasi adanya T inversi, ST depresi dan elevasi, dan Q pathologi.
- Q patologi bermakna kematian jaringan otot jantung/old infark
- ST Elevasi dan depresi bermakna infark akut
- T inverted artinya iskemi
5. Menentukan adanya hipertropi
- Jumlahkan gel S di V1 dengan R di V5/V6, BILA > 35 KK menggambarkan LVH
- Identifikasi perbandingan antara S dengan R di V1
- Lihat di lead II
- Lihat gel. P : (+); (-); (tidak ada)
- Lihat komplek QRS (sempit atau lebar)
1. Irama Sinus
- Gelombang P defleksi (+) positif/cembung keatas.
- QRS sempit <= 3 kotak kecil
- Frekwensi normal 60-100 x/m, disebut sinur ritme
- Bila HR <> 100 x/m disebut sinus takikardi
2. Irama Junction
- Gel P defleksi (-) negatif/cekung kebawah
- QRS sempit <= 3 kotak kecil
- Frekwensi 40-60 x/m
3. Irama Ventrikel
- Gelombang P Tidak ada/lurus
- QRS lebar > 3 kotak kecil
- Frekwensi 20-40 x/m
2. Menghitung frekwensi (x/menit)
- Bagi 1500 dengan jarak R-R (kotak kecil) atau
- Bagi 300 dengan jarak R-R (kotak sedang)
- Hitung gel R dalam 6 detik kalikan dengan 10.
3. Menentukan adanya gangguan konduksi
A. Blok AV
Hitung panjang interval PR, dimana panjang PR lebih dari 0,2 detik atau 5 kotak kecil
1) AV blok derajat I
- Interval PR memanjang > 5 kotak kecil secara konstan.
- Durasi/panjang Interval PR satu dengan interval PR berikutnya sama
- Setiap P diikuti Kompleks QRS
2) AV blok derajat II Mobitz type I (Wenckebach)
- Durasi/panjang Interval PR satu ke Interval PR berikutnya makin panjang.
- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.
3) AV blok derajat II Mobitz type II
- Durasi/panjang Interval PR normal.
- Ada gelombang P yang tidak diikuti Kompleks QRS.
4) AV blok derajat III/ Total AV Blok (TAVB)
- Gelombang P lebih banyak daripada Kompleks QRS hampir dua kali lipat
- Gelombang P tidak diikuti oleh Kompleks QRS.
- Kompleks QRS terbentuk dari depolarisasi Ventrikel
B. Blok Cabang Berkas/ Bundle Branch Block (BBB)
- Identifikasi adanya bentuk komplek QRS seperti huruf M dengan lebar lebih dari 0,12 detik.
- Tentukan pada sadapan berapa Komplek QRS seperti hurup M tersebut
- Bila Kompleks QRS yang menyerupai huruf M ada di V1-V3 diidentifikasi sebagai RBBB, Bila terdapat di lead V4-V6 disebut LBBB
4. Menentukan adanya ganguan perfusi
- Identifikasi adanya T inversi, ST depresi dan elevasi, dan Q pathologi.
- Q patologi bermakna kematian jaringan otot jantung/old infark
- ST Elevasi dan depresi bermakna infark akut
- T inverted artinya iskemi
5. Menentukan adanya hipertropi
- Jumlahkan gel S di V1 dengan R di V5/V6, BILA > 35 KK menggambarkan LVH
- Identifikasi perbandingan antara S dengan R di V1
TEKNIK PENYADAPAN EKG
Pencatatan EKG secara internasional dilakukan dengan standar :
1. Kecepatan laju kertas 25 mm/detik atau 50 mm/detik
2. Ukuran galvanometer setinggi 0,5 mv, 1mv, dan 2mv. Pencetakan daya ukur galvanometer dinamakan kalibrasi. Kalibrasi dilakukan tiga kali berturut-turut sebelum dan sesudah perekaman EKG. Tiap perubahan daya ukur harus dicatat.
Sadapan
Apabila electrode dari sebuah alat EKG dipasang pada tempat-tempat tertentu pada tubuh, maka terjadilah satu sadapan (Lead), yaitu :
1. Sadapan Bipolar (sadapan standar)
Ditandai dengan angka romawi I,II, dan III.
I. Elektrode yang positif dihubungkan dengan lengan kiri dan electrode negatif dengan lengan kanan.
II. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kanan.
III. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kiri.
2. Sadapan Unipolar Ekstremitas
Augmented Ekstremitas Lead à aVR, aVL, aVF
3. Sadapan Unipolar Prekordial
Sadapan Unipolar Prekordial atau dada ini diberikan tanda dengan huruf V (voltage) dan disertai angka dibelakangnya yang menunjukan lokasi diatas prekordium. Posisi electrode menurut American Heart Association adalah :
V1 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kanan.
V2 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kiri.
V3 : Diantara V2 dan V4.
V4 : Ruang iga ke 5 pada garis tengah klavikula kiri.
V5 : Garis aksila depan sejajar dengan V4.
V6 : Garis aksila tengah sejajar dengan V4.
Persiapan alat
1. Mesin EKG dilengkapi dengan 3 kabel :
a. Kabel untuk listrik
b. Kabel untuk bumi
c. Kabel untuk penderita terdiri dari 10 Kabel ( 4 kabel ekstremitas dan 6 kabel dada)
2. Plat elektrode yaitu :
a. Empat buah Elektode ekstremitas.
b. Enam buah elektroda isap.
3. Kassa/kapas alkohol
4. Jelly
5. Kertas EKG
6. Tissue
Penempatan electrode
1. Elektrode ekstremitas atas dipasang dipergelangan tangan kanan dan kiri searah telapak tangan
2. Elektrode ekstremitas bawah dapasang dipergelangan kaki kanan dan kiri sebelah dalam
3. Posisi pada pergelangan tangan bukanlah mutlak, bila diperlukan dapat dipasang sampai di bahu kanan dan kiri dan di pangkal paha kanan dan kiri. Kemudian kabel-kabel ekstremitas dihubungkan :
- Merah à Lengan kanan
- Kuning à Lengan kiri
- Hijau à Kaki kiri
- Hitam à Kaki kanan
4. Elektode dada harus terpasang seperti yang telah disebut diatas.
5. Hidupkan mesin EKG dan tunggu sebentar untuk pemanasan
6. Periksa kembali standardisasi dari EKG.
7. Pindahkan Lead Selector, dibuat pencatatan EKG berturut-turut sbb: Sadapan I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2, V3, V4, V5, dan V6.
8. Selesai pencatatan pindahkan kembali Lead Selector.
9. Matikan mesin EKG
10. Rapikan penderita dan alat-alat.
11. Catat dipinggir kiri atas kertas EKG:
- Nama
- Umur/Jenis kelamin
- Tanggal
- Jam
12. Catat nama yang merekam di kiri bawah kertas
13. Setiap sadapan diberi tanda yang sesuai.
Perhatian
1. Sebelum melakukan penyadapan periksa dahulu tegangan mesin EKG.
2. Alat selalu pada posisi Stop bila tidak digunakan.
3. Kalibrasi dapat memakai ½ mV bila amplitudo terlalu besar dan 2 mV bila terlalu kecil.
4. Dalam melakukan penyadapan EKG, perawat harus menghadap penderita.
1. Kecepatan laju kertas 25 mm/detik atau 50 mm/detik
2. Ukuran galvanometer setinggi 0,5 mv, 1mv, dan 2mv. Pencetakan daya ukur galvanometer dinamakan kalibrasi. Kalibrasi dilakukan tiga kali berturut-turut sebelum dan sesudah perekaman EKG. Tiap perubahan daya ukur harus dicatat.
Sadapan
Apabila electrode dari sebuah alat EKG dipasang pada tempat-tempat tertentu pada tubuh, maka terjadilah satu sadapan (Lead), yaitu :
1. Sadapan Bipolar (sadapan standar)
Ditandai dengan angka romawi I,II, dan III.
I. Elektrode yang positif dihubungkan dengan lengan kiri dan electrode negatif dengan lengan kanan.
II. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kanan.
III. Elektrode yang positif dihubungkan dengan kaki kiri dan yang negatif dengan lengan kiri.
2. Sadapan Unipolar Ekstremitas
Augmented Ekstremitas Lead à aVR, aVL, aVF
3. Sadapan Unipolar Prekordial
Sadapan Unipolar Prekordial atau dada ini diberikan tanda dengan huruf V (voltage) dan disertai angka dibelakangnya yang menunjukan lokasi diatas prekordium. Posisi electrode menurut American Heart Association adalah :
V1 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kanan.
V2 : Sela iga ke 4 pada garis sternal kiri.
V3 : Diantara V2 dan V4.
V4 : Ruang iga ke 5 pada garis tengah klavikula kiri.
V5 : Garis aksila depan sejajar dengan V4.
V6 : Garis aksila tengah sejajar dengan V4.
Persiapan alat
1. Mesin EKG dilengkapi dengan 3 kabel :
a. Kabel untuk listrik
b. Kabel untuk bumi
c. Kabel untuk penderita terdiri dari 10 Kabel ( 4 kabel ekstremitas dan 6 kabel dada)
2. Plat elektrode yaitu :
a. Empat buah Elektode ekstremitas.
b. Enam buah elektroda isap.
3. Kassa/kapas alkohol
4. Jelly
5. Kertas EKG
6. Tissue
Penempatan electrode
1. Elektrode ekstremitas atas dipasang dipergelangan tangan kanan dan kiri searah telapak tangan
2. Elektrode ekstremitas bawah dapasang dipergelangan kaki kanan dan kiri sebelah dalam
3. Posisi pada pergelangan tangan bukanlah mutlak, bila diperlukan dapat dipasang sampai di bahu kanan dan kiri dan di pangkal paha kanan dan kiri. Kemudian kabel-kabel ekstremitas dihubungkan :
- Merah à Lengan kanan
- Kuning à Lengan kiri
- Hijau à Kaki kiri
- Hitam à Kaki kanan
4. Elektode dada harus terpasang seperti yang telah disebut diatas.
5. Hidupkan mesin EKG dan tunggu sebentar untuk pemanasan
6. Periksa kembali standardisasi dari EKG.
7. Pindahkan Lead Selector, dibuat pencatatan EKG berturut-turut sbb: Sadapan I, II, III, aVR, aVL, aVF, V1, V2, V3, V4, V5, dan V6.
8. Selesai pencatatan pindahkan kembali Lead Selector.
9. Matikan mesin EKG
10. Rapikan penderita dan alat-alat.
11. Catat dipinggir kiri atas kertas EKG:
- Nama
- Umur/Jenis kelamin
- Tanggal
- Jam
12. Catat nama yang merekam di kiri bawah kertas
13. Setiap sadapan diberi tanda yang sesuai.
Perhatian
1. Sebelum melakukan penyadapan periksa dahulu tegangan mesin EKG.
2. Alat selalu pada posisi Stop bila tidak digunakan.
3. Kalibrasi dapat memakai ½ mV bila amplitudo terlalu besar dan 2 mV bila terlalu kecil.
4. Dalam melakukan penyadapan EKG, perawat harus menghadap penderita.
TERAPI LISTRIK (DEFIBRILASI)
A. DEFIBRILASI
Defibrilasi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu yang singkat secara asinkron.
Indikasi
1. VF
2. VT tanpa nadi
3. VT polymorphyc yang tidak stabil
Defibrilasi harus dilakukan sedini mungkin dengan alasan :
1. Irama yang didapat pada permulaan henti jantung umumnya adalah ventrikel fibrilasi (VF)
2. Pengobatan yang paling efektif untuk ventrikel fibrilasi adalah defibrilasi.
3. Makin lambat defibrilasi dilakukan, makin kurang kemungkinan keberhasilannya.
4. Ventrikel fibrilasi cenderung untuk berubah menjadi asistol dalam waktu beberapa menit.
Alat yang dipergunakan
1. Defibrilator
Defibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Enerji dialirkan melalui suatu elektrode yang disebut paddle. Defibrilator diklasifikasikan menurut 2 tipe bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator monophasic adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator biphasic adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak dipasarkan saat ini.
2. Jeli
Jeli digunakan untuk mengurangi tahanan dada dan membantu menghantarkan aliran listrik ke jantung, jeli dioleskan pada kedua paddle.
Energi
Untuk VF dan VT tanpa nadi, energi awal 360 joule dengan menggunakan monophasic deflbrilator, dapat diulang tiap 2 menit dengan energi yang sama, jika menggunakan biphasic deflbrilator energi yang diperlukan berkisar antara 120 - 200 joule.
Prosedur defibrilasi
1. Nyalakan deflbrilator
2. Tentukan enerji yang diperlukan dengan cara memutar atau menggeser tombol enerji
3. Paddle diberi jeli secukupnya.
4. Letakkan paddle dengan posisi paddle apex diletakkan pada apeks jantung dan paddle sternum diletakkan pada garis sternal kanan di bawah klavikula.
5. Isi (Charge) enerji, tunggu sampai enerji terisi penuh, untuk mengetahui enerji sudah penuh, banyak macamnya tergantung dari defibrilator yang dipakai, ada yang memberi tanda dengan menunjukkan angka joule yang diset, ada pula yang memberi tanda dengan bunyi bahkan ada juga yang memberi tanda dengan nyala lampu.
6. Jika enerji sudah penuh, beri aba-aba dengan suara keras dan jelas agar tidak ada lagi anggota tim yang masih ada kontak dengan pasien atau korban, termasuk juga yang mengoperatorkan defibrilator, sebagai contoh:
"Enerji siap "
"Saya siap "
"Tim lain siap"
7. Kaji ulang layar monitor defibrillator, pastikan irama masih VF/VT tanda nadi, pastikan enerji sesuai dengan yang diset, dan pastikan modus yang dipakai adalah asinkron, jika semua benar, berikan enerji tersebut dengan cara menekan kedua tombol discharge pada kedua paddle. Pastikan paddle menempel dengan baik pada dada pasien (beban tekanan pada paddle kira-kira 10 kg).
8. Kaji ulang di layar monitor defibrilator apakah irama berubah atau tetap sama scperti sebelum dilakukan defibrilasi, jika berubah cek nadi untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan RJP, jika tidak berubah lakukan RJP untuk selanjutnya lakukan survey kedua.
Automated External Defibrilator (AED)
AED adalah sebuah defibrilator yang bekerja secara komputer yang dapat :
1. Menganalisa irama jantung seorang korban yang mengalami henti jantung.
2. Mengenal irama yang dapat dilakukan tindakan defibrilasi ( shock)
3. Memberikan petunjuk pada operator ( dengan memperdengarkan suara atau dengan indikator cahaya)
AED digunakan jika korban mengalami henti jantung :
1. Tidak berespon
2. Tidak bernafas
3. Nadi tidak teraba atau tanda - tanda sirkulasi lain
Elektroda adhesif ditempatkan pada dada korban dan disambungkan ke mesin AED, paddle elektroda mempunyai 2 fungsi yaitu :
1. Menangkap sinyal listrik jantung dan mengirimkan sinyal tersebut ke komputer.
2. Memberikan shock melalui elektroda jika terdapat indikasi.
B. KARDIOVERSI
Kardioversi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu singkat secara sinkron.
Indikasi
1. Ventrikel Takikardi
2. Supra Ventrikel Takikardi
3. Atrial flutter
4. Atrial Fibrilasi
Alat yang dipergunakan
1. Defibrilator yang mempunyai modus sinkron
2. Jeli
3. Troli emergensi, terutama alat bantu napas
4. Obat-obat analgetik dan sedatif
5. Elektrode EKG
Energi
Enerji awal untuk SVT dan Atrial Flutter adalah 50 joule, apabila tidak berhasil enerji dapat dinaikan menjadi 100 joule, 200 joule, 300 joule dan 360 joule.
Untuk VT monomorphic dan Atrial Fibrilasi, enerji awal adalah 100 jule dan dapat dinaikan sampai 360 joule.
Sedangkan untuk VT polymorphic besarnya energi dan modus yang dipakai sama dengan yang digunakan pada tindakan defibrilasi
Prosedur
Prosedur tindakan kardioversi sama dengan tindakan deflbrilasi, hanya pada saat menekan tombol discharge kedua tombol tersebut harus ditekan agak lama, karena modul yang dipakai adalah modul sinkron dimana pada modul ini energi akan dikeluarkan (diberikan ) beberapa milidetik setelah defibrilator tersebut menangkap gelombang QRS. jika deflbrilator tidak dapat menangkap gelombang QRS enerji tidak akan keluar. Pasien dengan takikardi walaupun mungkin keadaannya tidak stabil akan tetapi kadang pasiennya masih sadar, oleh sebab itu jika diperlukan tindakan kardioversi, maka pasien perlu diberikan obat sedasi dengan atau tanpa analgetik.
RSPJHK : Standar ACLS (2005)
Defibrilasi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu yang singkat secara asinkron.
Indikasi
1. VF
2. VT tanpa nadi
3. VT polymorphyc yang tidak stabil
Defibrilasi harus dilakukan sedini mungkin dengan alasan :
1. Irama yang didapat pada permulaan henti jantung umumnya adalah ventrikel fibrilasi (VF)
2. Pengobatan yang paling efektif untuk ventrikel fibrilasi adalah defibrilasi.
3. Makin lambat defibrilasi dilakukan, makin kurang kemungkinan keberhasilannya.
4. Ventrikel fibrilasi cenderung untuk berubah menjadi asistol dalam waktu beberapa menit.
Alat yang dipergunakan
1. Defibrilator
Defibrilator adalah alat yang dapat memberikan shock listrik dan dapat menyebabkan depolarisasi sementara dari jantung yang denyutnya tidak teratur, sehingga memungkinkan timbulnya kembali aktifitas listrik jantung yang terkoordinir. Enerji dialirkan melalui suatu elektrode yang disebut paddle. Defibrilator diklasifikasikan menurut 2 tipe bentuk gelombangnya yaitu monophasic dan biphasic. Defibrilator monophasic adalah tipe defibrilator yang pertama kali diperkenalkan, defibrilator biphasic adalah defibrilator yang digunakan pada defibrilator manual yang banyak dipasarkan saat ini.
2. Jeli
Jeli digunakan untuk mengurangi tahanan dada dan membantu menghantarkan aliran listrik ke jantung, jeli dioleskan pada kedua paddle.
Energi
Untuk VF dan VT tanpa nadi, energi awal 360 joule dengan menggunakan monophasic deflbrilator, dapat diulang tiap 2 menit dengan energi yang sama, jika menggunakan biphasic deflbrilator energi yang diperlukan berkisar antara 120 - 200 joule.
Prosedur defibrilasi
1. Nyalakan deflbrilator
2. Tentukan enerji yang diperlukan dengan cara memutar atau menggeser tombol enerji
3. Paddle diberi jeli secukupnya.
4. Letakkan paddle dengan posisi paddle apex diletakkan pada apeks jantung dan paddle sternum diletakkan pada garis sternal kanan di bawah klavikula.
5. Isi (Charge) enerji, tunggu sampai enerji terisi penuh, untuk mengetahui enerji sudah penuh, banyak macamnya tergantung dari defibrilator yang dipakai, ada yang memberi tanda dengan menunjukkan angka joule yang diset, ada pula yang memberi tanda dengan bunyi bahkan ada juga yang memberi tanda dengan nyala lampu.
6. Jika enerji sudah penuh, beri aba-aba dengan suara keras dan jelas agar tidak ada lagi anggota tim yang masih ada kontak dengan pasien atau korban, termasuk juga yang mengoperatorkan defibrilator, sebagai contoh:
"Enerji siap "
"Saya siap "
"Tim lain siap"
7. Kaji ulang layar monitor defibrillator, pastikan irama masih VF/VT tanda nadi, pastikan enerji sesuai dengan yang diset, dan pastikan modus yang dipakai adalah asinkron, jika semua benar, berikan enerji tersebut dengan cara menekan kedua tombol discharge pada kedua paddle. Pastikan paddle menempel dengan baik pada dada pasien (beban tekanan pada paddle kira-kira 10 kg).
8. Kaji ulang di layar monitor defibrilator apakah irama berubah atau tetap sama scperti sebelum dilakukan defibrilasi, jika berubah cek nadi untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan RJP, jika tidak berubah lakukan RJP untuk selanjutnya lakukan survey kedua.
Automated External Defibrilator (AED)
AED adalah sebuah defibrilator yang bekerja secara komputer yang dapat :
1. Menganalisa irama jantung seorang korban yang mengalami henti jantung.
2. Mengenal irama yang dapat dilakukan tindakan defibrilasi ( shock)
3. Memberikan petunjuk pada operator ( dengan memperdengarkan suara atau dengan indikator cahaya)
AED digunakan jika korban mengalami henti jantung :
1. Tidak berespon
2. Tidak bernafas
3. Nadi tidak teraba atau tanda - tanda sirkulasi lain
Elektroda adhesif ditempatkan pada dada korban dan disambungkan ke mesin AED, paddle elektroda mempunyai 2 fungsi yaitu :
1. Menangkap sinyal listrik jantung dan mengirimkan sinyal tersebut ke komputer.
2. Memberikan shock melalui elektroda jika terdapat indikasi.
B. KARDIOVERSI
Kardioversi adalah pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu singkat secara sinkron.
Indikasi
1. Ventrikel Takikardi
2. Supra Ventrikel Takikardi
3. Atrial flutter
4. Atrial Fibrilasi
Alat yang dipergunakan
1. Defibrilator yang mempunyai modus sinkron
2. Jeli
3. Troli emergensi, terutama alat bantu napas
4. Obat-obat analgetik dan sedatif
5. Elektrode EKG
Energi
Enerji awal untuk SVT dan Atrial Flutter adalah 50 joule, apabila tidak berhasil enerji dapat dinaikan menjadi 100 joule, 200 joule, 300 joule dan 360 joule.
Untuk VT monomorphic dan Atrial Fibrilasi, enerji awal adalah 100 jule dan dapat dinaikan sampai 360 joule.
Sedangkan untuk VT polymorphic besarnya energi dan modus yang dipakai sama dengan yang digunakan pada tindakan defibrilasi
Prosedur
Prosedur tindakan kardioversi sama dengan tindakan deflbrilasi, hanya pada saat menekan tombol discharge kedua tombol tersebut harus ditekan agak lama, karena modul yang dipakai adalah modul sinkron dimana pada modul ini energi akan dikeluarkan (diberikan ) beberapa milidetik setelah defibrilator tersebut menangkap gelombang QRS. jika deflbrilator tidak dapat menangkap gelombang QRS enerji tidak akan keluar. Pasien dengan takikardi walaupun mungkin keadaannya tidak stabil akan tetapi kadang pasiennya masih sadar, oleh sebab itu jika diperlukan tindakan kardioversi, maka pasien perlu diberikan obat sedasi dengan atau tanpa analgetik.
RSPJHK : Standar ACLS (2005)
Langganan:
Postingan (Atom)